Kapitra Oh Kapitra, Ngarep Nih Ye

Kapitra Oh Kapitra, Ngarep Nih Ye
Umatizen - Hihihihi, biasanya yang minta jatah jabatan itu yang berprestasi, yang punya kapasitas dan kapabilitas, bukan orang gagal. Tapi ada juga, orang yang sudah gagal 'ngotot' minta jabatan.

Jabatannya pun tak tanggung-tanggung, minta jadi menteri. Atau setidaknya jaksa Agung. Mungkin dikiranya, tak ada lagi putra bangsa ini yang labih baik dari dirinya, sehingga merasa 'pantas' minta jadi menteri, jadi jaksa Agung.

Itulah Kapitra Ampera, konon dia gagal nyaleg via PDIP. Tapi ketika mengetahui dirinya gagal, kapitra malah mengajukan proposal minta jatah menteri dan jaksa Agung. Dikiranya, di TKN Jokowi tidak ada yang ngiler jabatan itu ?

Belum lagi, ini permintaan tidak logis. Jokowi kan 'kalah' ? Bagaimana mungkin meminta jabatan menteri kepada pihak yang kalah ?

Tapi, untuk sekedar hiburan, lucu-lucuan, membuat Bang Karni belajar jadi 'dungu' dan menikmati kedunguannya, oke juga lah. Kita apresiasi, namanya juga berharap, ngarep.

Hanya saja, penulis jadi ingat nasehat bijak rekan sejawat. Hidup itu harus punya harga diri dan tau diri. Untuk dihargai, manusia wajib tau diri, ukur baju, melihat kemampuan. Memaksakan kehendak, atau sekedar berharap tanpa melihat diri, tidak tahu diri, itu sama saja mencederai harga diri sendiri.

Kalau dulu ada Ampera, maknanya Amanat Penderitaan Rakyat. Hari ini, publik melihat betapa beratnya Amanat Penderitaan Kapitra. Sampai berdarah-darah, minta jabatan menteri dan jaksa Agung.

Kenyataan ini juga semakin meneguhkan, betapa banyak orang yang tega memutar haluan, mengambil posisi berhadapan dengan umat, hanya demi mengejar sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan. Harga yang terlalu murah, bahkan jika itu hanya untuk menghargai bergesernya posisi meski hanya satu inchi.

Umat ini butuh figour yang benar-benar tulus berjuang untuk umat, berdiri tegak diatas kepentingan umat, dan tetap bersama umat meski diuji dengan gemerlapnya dunia atau ancaman kesempitan hidup. Umat ini rindu, pembela umat sejati yang tak akan mengkhianati amanah hanya untuk urusan remah-remah dunia.

Jika umat ini, telah bertemu dengan yang jujur mengemban amanat, tidak menjual kesetiaan hanya untuk jabatan, niscaya umat ini tenang memberikan kepercayaan. Umat ini, akan tulus memberikan kesetiaan, menjadi bagian dari gerbong perjuangan.

Seseorang yang jujur dalam perjuangan, dari kejauhan aura itu telah terasa oleh penginderaan umat. Semakin mendekat, semakin pekat aroma kejujuran itu. Umat akan saling berbisik dan mengabarkan "pejuang ini jujur, dia tulus membela umat, dia tidak berharap dunia, kecuali balasan pahala dan ridla dari Allah SWT semata". [].

Sumber : Nasrudin Joha

Kapitra Oh Kapitra, Ngarep Nih Ye