Hari Moekti Wafat, Umat Islam Berduka

Umatizen | Hari Moekti Wafat, Umat Islam Berduka | Umatizen.com | Berita Duka
Umatizen -- Umat Islam di Indonesia berduka cita. Ustaz Hari Moekti yang dikenal juga sebagai mantan rocker di era 1990-an, mengembuskan napas terakhirnya.

Pemilik nama Hariadhi Wibowo ini wafat  pada Minggu (24/6/2018) pukul 20.49 WIB di Hotel The Edge Cimahi. Hari tiba di hotel tersebut untuk mengisi pengajian di Majelis Taklim Nuurun Nisa Cimahi, Jawa Barat, keesokan paginya.

Berita meninggalnya Hari Moekti menjadi trending topic di media sosial Twitter wilayah Indonesia pada Senin (25/6) pukul 7.29 WIB.

Pria kelahiran Cimahi, 25 Maret 1957 ini adalah mantan rocker Indonesia yang kemudian beralih profesi menjadi dai. Penyanyi dengan nama asli Hariadhi Wibowo ini berubah namanya menjadi Hari Moekti ketika banyak yang menanyakan dirinya Hari yang mana dan yang dijawab Hari yang kakaknya Moekti, jadilah dia dipanggil Hari Moekti.

Sejak kecil hingga menamatkan studinya di SMA, hari-hari Hari dihabiskan di Cimahi dan Bandung. Kemudian sebagai anak tentara, Hari mengikuti orang tuanya yang pindah tugas ke Semarang. Di kota Semarang Hari pernah menjadi room boy di Hotel Patra Jasa Semarang selama satu tahun. Dari kota Semarang pula karier Hari dalam bidang musik dimulai. Hari dan beberapa kawannya membentuk grup band Darodox (dari bahasa jawa yang berarti nderedeg atau gemetar).

Tahun 1980 sesudah ayahnya meninggal, Hari kembali ke Bandung. Di Bandung, Hari bergabung dengan Orbit band, Primas band bersama Tommy Kasmiri, kemudian New Bloodly Band. Perjalanan musiknya kemudian dilanjutkan di kota Jakarta dengan bergabung bersama Makara dari tahun 1982 sampai tahun 1985. Namun ketika Hari  melakukan rekaman solo grup ini bubar. Suatu hal yang dianggap mengangkat kariernya adalah ketika bergabung dengan Krakatau pada tahun 1985.

Beberapa rekaman Hari  yang meledak di pasaran antara lain adalah Lintas Melawai pada tahun 1987, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka dan Satu Kata bersama grup band Adegan. Selama kariernya Hari telah membuat tujuh album rekaman, albumnya yang terakhir adalah Di Sini. Album terakhir itu dibuat ketika Harri mulai menekuni agama Islam lebih mendalam, sehingga dia  tidak melakukan promosi dengan mengadakan show seperti yang dilakukan setiap penyanyi ketika albumnya muncul. Akibatnya album terakhir itu kurang laku di pasaran.

Dunia yang dekat petualangan alam adalah dunia Hari yang lainnya ketika masih menjadi penyanyi. Ia sempat membuat klub panjat tebing di Sukabumi, juga menjadi anggota SAR, aktif dalam olah raga arung jeram (search and rescue), kemudian mengikuti kursus terjun payung di Australia. Semua itu dilakukannya dari tahun 1990 sampai 1996.

-- Hijrah dari rocker menjadi Dai

Proses mendapatkan hidayah yang dilakukan oleh Hari Moekti bukanlah perjalanan yang instan, butuh proses dan pengorbanan. Harta, pikiran dan tenaga juga keluarga yang tidak mendukungnya  berubah dari rocker menjadi dai ditentang, sehingga harta habis membayar hutang, bisnis hancur, sehingga tidak menyisakan apapun.

Namun, di balik itu semua Hari merasa terlahir kembali, dengan kehidupan baru, yakni pengemban dakwah dan bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi dakwah internasional yang berada di lebih 40 negara di dunia yang menyerukan tegaknya hukum-hukum Allah SWT dalam wadah Khilafah rasyidah ‘ala min Hajjin Nubuwah. Terdapat pro dan kontra dari fans beliau dengan bergabungnya beliau dengan HTI, namun beliau tetap istiqomah dengan dakwah bersama HTI.

 -- Wakaf Sebagai Gaya Hidup Muslim

Setelah hijrah dari rocker menjadi dai,  Hari aktif dalam kegiatan dakwah dan juga kegiatan sosial dalam membantu kesusahan yang dialami oleh sesama di seluruh penjuru nusantara. Dia menyerukan wakaf sebagai gaya hidup seorang muslim, hal ini dia lakukan karena terinspirasi dari kebiasaan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang selalu mewakafkan hartanya jika mereka mendapatkan rezeki.

Dalam menjalan aktivitas ini, Hari  aktif sebagai pembina di salah satu lembaga wakaf yang menyalurkan wakaf untuk proyek wakaf sarana air bersih, wakaf Al-Quran, wakaf sarana dakwah, wakaf pembangkit listrik, wakaf produktif, donasi kesehatan, donasi pendidikan dan juga zakat peer to peer di Lembaga filantropi Islam, badan Wakaf Al-Quran. (Fath/Obsessionnews.com)

Umatizen | Hari Moekti Wafat, Umat Islam Berduka