Umatizen | Calon Legrek? | Opini Umat | Hanif Kristianto
Umatizen -- Ancang-ancang menyambut tahun politik 2019 tampaknya tidak serta merta disambut gembira. Batas waktu pencalonan bakal calon legeslatif (bacaleg) masih sepi peminat. Kuota 30% untuk perempuan menjadi PR setiap partai politik. Memang tidak semua rakyat yang punya idealitas dan integritas serta merta mendaftar bacaleg. Begitu pun, tidak semua kader partai, aktifis, ulama, atau pribadi penyambung lidah rakyat, turut mendaftar. Terkadang, orang yang berbekal semangat dan dana yang melimpah—sumbangan atau pribadi—memberanikan diri mendaftar. Artis dan publik figur yang kerap muncul di TV mencoba cari peruntungan di belantika perpolitikan.

Bagi sebagian orang, menjadi anggota dewan adalah pucuk perjuangan tertinggi untuk kepentingan rakyat. Posisi anggota dewan mampu menyusun anggaran, membuat aturan, memberi masukan eksekutif, dan bersikap politik untuk bersuara kritis. Ada anggapan ketika duduk di dalam kekuasaan, perjuangan lebih mudah dan ada jalan. Nah, benarkah perjuangan menjadi anggota legislatif demi kepentingan rakyat? Ataukah justru demi kepentingan pribadi, partai, dan kroninya? Faktalah yang bisa menjawab.

Sistem politik demokrasi diklaim sebagai representasi perwakilan rakyat. Bagi yang meyakini dan mengamalkannya dianggap sarana mudah membela rakyat. Semua diatasnamakan rakyat. Bolehlah mereka mengatasnamakan rakyat, namun faktanya kehidupan anggota dewan di atas rakyat. Dana untuk kepentingan rakyat, mereka bergulat dan berdiskusi, terkadang gontok-gontokan. Sementara dana untuk pribadi kepentingan dewan, tanpa ba-bi-bu lancar jaya urusannya.

Demokrasi yang berasaskan sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) dan bertumpu pada liberalisme, akan menimbulkan kerusakan sistemik. Bisa mengenai kehidupan rakyat dan calon legislatif sendiri. Karenanya, sebagian masyarakat memelesetkan caleg dengan calon legrek (jawa: rusak). Hal ini bisa dimengerti karena rakyat telah merasakan kehidupan yang tidak dirasakan anggota legislatif. Belum lagi, kasus suap, korupsi, asusila, dan kriminal lainnya kerap dilakukan anggota legislatif seperti dalam pemberitaan media.

Ada beberapa hal menarik untuk mengurai plesetan calon legrek dari sisi politik dan media:

Pertama, mahalnya demokrasi. Bolehlah semua partai akan mendanai caleg atau klaim nol mahar. Ternyata harga demokrasi tidak bisa ditawar. Khususnya dalam masa kampanye agar rakyat mau memilih calonnya. Semenjak liberalisasi politik melalui pemilihan langsung dan diatur dalam UU Pemilu, semua biaya ditanggung peserta.

Di antara bacaleg ada anggapan prosesi ini seperti cari peruntungan. Berani menghutang di awal, lalu pembayaran ketika jadi anggota dewan. Tidak heran jika di awal pengangkatannya, ramai-ramai gadaikan SK anggota dewan untuk bayar utang. Hal yang lucu, dalam doa-doa mereka terselip semoga tidak OTT KPK. Hal ini wajar terjadi, legislatif menjadi catatan merah sebagai lembaga sarang korupsi.

Kedua, memudarnya ideologi. Demi memenuhi kuota bacaleg, parpol rela membuka pendaftaran dan mengajak anak bangsa yang mau berkontribusi politik. Karakteristik parpol di Indonesia minimnya berbasis pengkaderan dari awal dan kontinuitasnya. Parpol lebih memilih jalur pintas dengan menawarkan kepada orang-orang yang dianggap dikenal di sekitar lingkungan. Tak jarang untuk caleg perempuan seringnya main comot.

Ideologisasi parpol di Indonesia ada yang abu-abu dan tidak jelas. Kalaulahlah platform parpol berideologi condongnya pada sosialisme dan kapitalisme, meski asasnya pancasila dan agama. Tatkala ideologi ini tidak dipunyai bacaleg, bagaimana memikirkan nasib bangsa dan rakyat? Karena dalam benaknya tidak ada cara berfikir dan bersikap politik. Pendeknya, hilangnya nilai seorang negarawan dan politisi sejati, yang satunya ucapan dan perbuatan.

Ketiga, kerusakan dalam pengaturan kebijakan dan kehidupan. Demi menjadi anggota legislatif, seseorang rela menggadaikan aqidahnya. Misalnya melakukan ritual mistis dan perdukunan yang nyeleneh. Pada pilkada serentak 2018, penjualan ayam hitam Cemani meningkat tajam. Ayam ini dianggap dipakai dalam ritual mistis. Belum lagi yang rela mandi telanjang di kali, mandi bunga tujuh rupa, semedi di gunung, dan lainnya. Tak lupa, mereka juga mendatangi kiai yang memiliki basis massa.

Menabrak aturan keagamaan. Ada yang rela hutang ke bank dengan sejumlah jaminan. Menggadaikan barang pribadi, hingga menjual sawah dan rumah sebagai modal maju bacaleg. Ternyata dengan cara itu pun banyak yang tidak terpilih, akhirnya stres, gila, melarikan diri, dan tekanan psikologis lainnya. Pencalegan dianggap sarana judi peruntungan. Jika sudah hutang menumpuk dan tekanan hidup meningkat, apa tidak rusak namanya?

Keempat, segala hal ikhwal terkait pencalegan akan menjadi berita utama di tahun politik 2018-2019. Rakyat sebagai pengonsumsi informasi akan melihat tingkah polah manusia yang berebut dipilih. Rakyat pun akan memahami, siapa saja yang betul-betul bekerja untuk rakyat atau yang sekadar ingin jabatan? Ada pula rakyat yang geli, melihat seseorang mencalonkan berkali-kali dan tidak jadi lagi. 

Senantiasa waspada di tahun politik ini. Rakyat jangan sampai dilenakan dan cuma fokus pada mereka yang rebutan jabatan. Rakyat harus sadar bahwa di tahun politik ini beban mereka akan bertambah berat. Hal ini dikarenakan ada upaya penyedotan dana besar-besaran untuk cost politic. Lagi-lagi, nasib rakyat diabaikan dan dijadikan kuda tunggangan melenggang ke kursi kekuasaan. Jangan sampai jatuh ke lubang buaya untuk kedua kalinya. Ojok sampek uripe rakyat melu legrek, rek!

Ditulis oleh : Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Umatizen | Memasuki Babak Knockout | Opini Umat | Chusnatul Jannah
Ditulis oleh : Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Umatizen -- Pendaftaran Capres-Cawapres sudah di depan mata. Namun tak ada satu pun partai baik koalisi pemerintah dan oposisi mendeklarasikan siapa cawapres Jokowi dan Prabowo. Spekulasi pun berkembang dengan liar. Formasi duet capres dan cawapres dari berbagai versi dibuat. Ada yang bilang Anies-AHY, Jokowi – TGB, Prabowo – Anies, dan lainnya. Disinilah babak penyisihan itu terjadi. TGB sudah pasti tersisih dari daftar capres umat Islam. Sebab, secara terang-terangan ia sudah mendukung Jokowi untuk dua periode. Nampaknya jargon #2019GantiPresiden sudah menjadi harga mati bagi partai oposisi dan umat Islam sendiri. Siapapun yang jadi, asal bukan Jokowi. 

Sentimen publik terhadap rezim Jokowi memang sudah mencapai titik jenuh. Partai penguasa pun tak tinggal diam. Mereka mencoba mengembalikan marwah Jokowi yang terlanjur jatuh dengan merangkul ulama yang sebelumnya mendapat tempat di hati umat. Sebut saja KH. Ma’ruf Amien, Ali  Mochtar Nabalin, Ustadz Yusuf Mansur hingga TGB Zainul Majdi. Manuver yang cukup cerdas. Sebab, track record Jokowi tak  cukup baik sebagai pemimpin yang mampu merangkul semua kalangan. Malah, menjadi pendukung penista agama dan terkesan memusuhi ulama yang kritis terhadapnya.  

Di sisi lain, partai-partai oposisi yang cukup kritis dengan pemerintahan Jokowi semakin mendapat simpati dari umat. Alhasil, dukungan terhadap Prabowo mengalir deras. Jika menginginkan Jokowi tumbang di 2019, maka lawan yang pas akan menjadi penentu kemenangan. Dari hasil survey yang pernah dirilis, elektabilitas Prabowo masih di bawah Jokowi. Inilah yang menjadi PR besar. Sosok Prabowo masih diragukan untuk bertanding head to head melawan Jokowi. Usulan capres dari tokoh lain pun bermunculan. Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, ataupun Agus Harimurti Yudhoyono menjadi calon kuat sebagai rival Jokowi. Sementara, di kubu Prabowo sendiri siapa cawapres yang akan mendampingi masih tarik ulur. Partai koalisi oposisi masih bersibuk mencalonkan kader dari partai masing-masing. Berbeda dengan partai koalisi pendukung Jokowi. Barisan pertahanan mereka begitu rapat hingga tak tampak keegoisan partai pendukungnya mencalonkan kader mereka. Siapapun cawapresnya, asal Jokowi menang.

Umat perlu menyadari tak ada harga mati dalam demokrasi. Berubahnya sikap politik TGB menjadi bukti, tak ada yang benar-benar memperjuangkan hak rakyat. Semua sibuk menyelamatkan kepentingan diri ataupun partainya. Musuh bisa merangkul, teman bisa memukul. Tak perlu heran. Memang begitu jalannya pertandingan politik ala demokrasi. Tak usah baper pula melihat ulama atau tokoh yang dikagumi justru bergandengan tangan dengan penguasa saat ini. Detik-detik pendaftaran calon RI 1 akan dimulai. Babak Knockout akan tersaji dalam putaran kandidat capres dan cawapres. 
Siapapun pemenangnya, mereka tak akan bisa berlepas diri dari ideologi dan kekuatan global. Pemimpin itu harus bebas dari segala intervensi. Pemimpin itu pelayan rakyat, mengurusi seluruh kepentingan rakyat. Namun, bila sistem kapitalisme-demokrasi masih diterapkan, sudah dipastikan ada intrik kepentingan yang akan bermain. Inilah yang membuat negeri ini tak kunjung mengalami perubahan. Sistem sama, hanya sekedar ganti kepala. Ujung-ujungnya rakyat siap kecewa. 

Tengoklah sejarah bagaimana Rasulullah SAW berpolitik. Tak pernah mau kompromi dengan sistem yang didominasi kaum quraisy kala itu. Beliau tetap konsisten melakukan penyadaran umat di tengah sistem jahiliyah quraisy. Alhasil, Allah SWT berikan kemenangan atas beliau melalui kaum Anshar dari Madinah. Itulah politik yang beliau ajarkan. Politik Islam. Oleh karena itu, tak usah silau dengan sosok-sosok yang ditawarkan. Tetap berjuang menyadarkan umat bahwa solusi sistem dan kepemimpinan hanya dengan politik Islam. Wallahu a’lam.

Umatizen | Pesan Terakhir Hari Moekti: Teruskan Dakwah Islam | Umatizen.com | Berita Duka
Umatizen -- Hari Moekti meninggal dunia pada usia 61 tahun. Sebelum meninggal, sang mantan roker ternyata sempat memberi pesan terakhir kepada adiknya, Chandra Moekti.

"Pesan terakhirnya cuma teruskan saja dakwah Islam," kata Chandra Moekti saat berbincang dengan detikHOT di rumah duka, kompleks Pemda, Padasuka, Blok H 7980 Cimahi, Senin dini hari (25/6/2018).

Chandra mengatakan Hari meninggal dunia karena serangan stroke mendadak. Peristiwa itu terjadi saat Hari menginap di Hotel The Edge Cimahi, Jawa Barat.

Hari sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Jenazah Hari rencananya akan dibawa ke Bogor, Jawa Barat, untuk dimakamkan. [Ken/Detik]

Umatizen | Hari Moekti Ingin Peti Matinya Diselimuti Bendera Ar-Rayah | Umatizen.com | Berita Duka
Umatizen -- Beberapa bulan sebelum meninggal, Hari Moekti ternyata sempat berpesan. Jika suatu hari dirinya meninggal, Hari Moekti ingin peti matinya diselimuti bendera Ar-Rayah.

"Jadi dia bilang jangan ada bendera kuning, dia ingin petinya diselimuti bendera Ar-Rayah," ujar adik Hari Moekti, Chandra Moekti di rumah duka Pemda Padasuka blok H 7980 Cimahi, Senin (25/6/2018).

Seperti diketahui, bendera Ar-Rayah adalah bendera bertuliskan dua kalimat syahadat. Bendera ini merupakan simbol umat muslim keseluruhan.

Hari Moekti meninggal dunia karena stroke yang menyerangnya saat sedang bersiap berdakwah. Hari Moekti meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. [Ken/Detik]

Umatizen | Hari Moekti Wafat, Umat Islam Berduka | Umatizen.com | Berita Duka
Umatizen -- Umat Islam di Indonesia berduka cita. Ustaz Hari Moekti yang dikenal juga sebagai mantan rocker di era 1990-an, mengembuskan napas terakhirnya.

Pemilik nama Hariadhi Wibowo ini wafat  pada Minggu (24/6/2018) pukul 20.49 WIB di Hotel The Edge Cimahi. Hari tiba di hotel tersebut untuk mengisi pengajian di Majelis Taklim Nuurun Nisa Cimahi, Jawa Barat, keesokan paginya.

Berita meninggalnya Hari Moekti menjadi trending topic di media sosial Twitter wilayah Indonesia pada Senin (25/6) pukul 7.29 WIB.

Pria kelahiran Cimahi, 25 Maret 1957 ini adalah mantan rocker Indonesia yang kemudian beralih profesi menjadi dai. Penyanyi dengan nama asli Hariadhi Wibowo ini berubah namanya menjadi Hari Moekti ketika banyak yang menanyakan dirinya Hari yang mana dan yang dijawab Hari yang kakaknya Moekti, jadilah dia dipanggil Hari Moekti.

Sejak kecil hingga menamatkan studinya di SMA, hari-hari Hari dihabiskan di Cimahi dan Bandung. Kemudian sebagai anak tentara, Hari mengikuti orang tuanya yang pindah tugas ke Semarang. Di kota Semarang Hari pernah menjadi room boy di Hotel Patra Jasa Semarang selama satu tahun. Dari kota Semarang pula karier Hari dalam bidang musik dimulai. Hari dan beberapa kawannya membentuk grup band Darodox (dari bahasa jawa yang berarti nderedeg atau gemetar).

Tahun 1980 sesudah ayahnya meninggal, Hari kembali ke Bandung. Di Bandung, Hari bergabung dengan Orbit band, Primas band bersama Tommy Kasmiri, kemudian New Bloodly Band. Perjalanan musiknya kemudian dilanjutkan di kota Jakarta dengan bergabung bersama Makara dari tahun 1982 sampai tahun 1985. Namun ketika Hari  melakukan rekaman solo grup ini bubar. Suatu hal yang dianggap mengangkat kariernya adalah ketika bergabung dengan Krakatau pada tahun 1985.

Beberapa rekaman Hari  yang meledak di pasaran antara lain adalah Lintas Melawai pada tahun 1987, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka dan Satu Kata bersama grup band Adegan. Selama kariernya Hari telah membuat tujuh album rekaman, albumnya yang terakhir adalah Di Sini. Album terakhir itu dibuat ketika Harri mulai menekuni agama Islam lebih mendalam, sehingga dia  tidak melakukan promosi dengan mengadakan show seperti yang dilakukan setiap penyanyi ketika albumnya muncul. Akibatnya album terakhir itu kurang laku di pasaran.

Dunia yang dekat petualangan alam adalah dunia Hari yang lainnya ketika masih menjadi penyanyi. Ia sempat membuat klub panjat tebing di Sukabumi, juga menjadi anggota SAR, aktif dalam olah raga arung jeram (search and rescue), kemudian mengikuti kursus terjun payung di Australia. Semua itu dilakukannya dari tahun 1990 sampai 1996.

-- Hijrah dari rocker menjadi Dai

Proses mendapatkan hidayah yang dilakukan oleh Hari Moekti bukanlah perjalanan yang instan, butuh proses dan pengorbanan. Harta, pikiran dan tenaga juga keluarga yang tidak mendukungnya  berubah dari rocker menjadi dai ditentang, sehingga harta habis membayar hutang, bisnis hancur, sehingga tidak menyisakan apapun.

Namun, di balik itu semua Hari merasa terlahir kembali, dengan kehidupan baru, yakni pengemban dakwah dan bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi dakwah internasional yang berada di lebih 40 negara di dunia yang menyerukan tegaknya hukum-hukum Allah SWT dalam wadah Khilafah rasyidah ‘ala min Hajjin Nubuwah. Terdapat pro dan kontra dari fans beliau dengan bergabungnya beliau dengan HTI, namun beliau tetap istiqomah dengan dakwah bersama HTI.

 -- Wakaf Sebagai Gaya Hidup Muslim

Setelah hijrah dari rocker menjadi dai,  Hari aktif dalam kegiatan dakwah dan juga kegiatan sosial dalam membantu kesusahan yang dialami oleh sesama di seluruh penjuru nusantara. Dia menyerukan wakaf sebagai gaya hidup seorang muslim, hal ini dia lakukan karena terinspirasi dari kebiasaan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang selalu mewakafkan hartanya jika mereka mendapatkan rezeki.

Dalam menjalan aktivitas ini, Hari  aktif sebagai pembina di salah satu lembaga wakaf yang menyalurkan wakaf untuk proyek wakaf sarana air bersih, wakaf Al-Quran, wakaf sarana dakwah, wakaf pembangkit listrik, wakaf produktif, donasi kesehatan, donasi pendidikan dan juga zakat peer to peer di Lembaga filantropi Islam, badan Wakaf Al-Quran. (Fath/Obsessionnews.com)

Umatizen | MA Tolak Kasasi Alfian Tanjung, Pengacara Ungkap Kejanggalan | Opini| Umatizen.com
Umatizen -- Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi Alfian Tanjung terkait kasus ujaran kebencian di Pengadilan Negeri Surabaya. Alfian dijerat 2 tahun penjara karena menyebut Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sebagai antek Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Amar putusan menolak kasasi terdakwa dan jaksa penuntut umum,” seperti dikutip dari situs Mahkamah Agung (MA), Jumat (08/06/2018).

Perkara ini diputus oleh Ketua Majelis Hakim Andi Samsan Nganro dengan Anggota Majelis Hakim Eddy Army dan Margono pada 7 Juni 2018. Dari petikan putusan di situs MA, tercantum perkara ini masuk dalam klasifikasi perkara penghapusan diskriminasi ras dan etnis.

Atas putusan ini, Kuasa hukum Alfian Tanjung, Abdullah Al Katiri mengungkapkan bahwa MA tersebut menggunakan pertimbangan putusan PN Surabaya yang banyak kejanggalannya.

“Karena putusan Banding Pengadilan Tinggipun juga memperkuat Putusan PN Surabaya. Dan kejanggalan-kejanggalan dari pertimbangan pertimbangan Majelis Hakim PN Surabaya saya lihat ada lima,” ungkapnya dalam pernyataan tertulisnya, Ahad (10/06/2018).

Pertama, Katiri menyebut bahwa barang bukti yang diajukan JPU dalam perkara Surabaya dinilai rusak. Satu-satunya bukti yang digunakan adalah video di dalam flashdisk yang digunakan pelapor.

“Dia (pelapor) hanya mendownload dari YouTube dan menyimpannya di flashdisk dan flashdisk tersebut digunakan untuk melapor. Pada saat diputar di persidangan pertama, pada menit ke 5 sampai 6 vidio tersebut berhenti, tidak bisa diputar secara utuh,” ungkap Al Katiri.

Menurut ahli digital forensik, Katiri menyebutkan bahwa flashdisk tersebut memang rusak dari awal. Sehingga barang bukti tidak bisa digunakan sebagai alat bukti yang sah seperti yang diatur dalam Pasal 6 UU ITE yang bunyinya barang bukti dapat digunakan sebagai alat bukti yg sah jika barang bukti yang digunakan harus dapat diakses secara utuh dalam persidangan dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menerangkan suatu hal.

Selain itu, kejanggalan yang dirasakan oleh Al Katiri adalah dakwaan jaksa tidak menggunakan UU ITE melainkan Pasal 16 jo pasal 4 huruf b butir 2 UU nomor 40 tahun 2008 mengenai diskriminasi ras dan etnis.

“Harusnya putusan hakim menggunakan UU ITE karena barang buktinya menggunakan menggunakan perangkat elektronik yaitu sebuah flashdisk,” ungkapnya.

Katiri juga menyebutkan bahwa kejanggalan berikutnya ialah saat status Alfian masih tersangka, barang bukti belum diuji di laboratorium. Sedangkan menurut Perkap nomor 10 tahun 2009 pasal 1 poin 7 disebutkan barang bukti yang sah adalah yang sudah diuji laboratorium.

“Dan faktanya barang bukti tersebut tidak diuji di laboratorium forensik karena rusak,” ungkapnya.

Selanjutnya ialah status tersangka Alfian Tanjung. Menurut Katiri, tersangka itu ditentukan setelah adanya 2 alat bukti. Namun, dalam perkara Surabaya, ahli hukum dan IT diperiksa jauh setelah status tersangka disematkan pada Alfian.

“Tersangkanya itu 30 Mei 2017, saksi diperiksa Juni-Juli, bahkan Agustus,” ungkapnya.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya telah menjatuhkan vonis dua tahun penjara pada Alfian, terkait kasus ujaran kebencian saat memberikan ceramah di sebuah masjid di Surabaya pada Februari 2017. Alfian kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya. Namun, majelis hakim tetap menjatuhkan vonis pada Alfian.

Perkara ini berawal dari rekaman video ceramah yang beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Alfian menyebut bahwa ‘Jokowi adalah PKI’, ‘Cina PKI’, ‘Ahok harus dipenggal kepalanya’, dan ‘Kapolda Metro Jaya diindikasikan PKI’. Rekaman itu kemudian dilaporkan oleh warga Surabaya bernama Sujatmiko ke Bareskrim Polri.

Majelis hakim menyatakan Alfian terbukti melakukan perbuatannya, namun hal itu bukan termasuk dalam perbuatan pidana. Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan Alfian mengulang pernyataan dan disebarkan oleh media yang tidak terdaftar di Dewan Pers. Sebelumnya Alfian dituntut melanggar pasal 29 ayat (2) UU 11/2008 tentang ITE.

Perkara itu berbeda dari kasus ujaran kebencian Alfian Tanjung yang disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Pada 30 Mei lalu, hakim menyatakan dakwaan terhadap Alfian, soal tudingan banyaknya anggota Partai Komunis Indonesia di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, tidak terbukti. [Umatizen/Kiblat Net]

Umatizen | Sejak 30 Maret, Israel Bunuh 135 Warga Palestina | Opini| Umatizen.com
Umatizen -- Sejak dimulainya aksi Great March of Return pada 30 Maret 2018 lalu, total warga Palestina yang dibunuh Israel mencapai 135 jiwa. Laporan itu dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Palestina.

Seperti dikutip dari Kantor Berita Palestina, WAFA pada Ahad (10/06/2018), dari 135 jumlah korban, 127 diantaranya tewas saat aksi protes di Jalur Gaza. Angka itu termasuk empat orang lainnya yang ditembak mati Israel pada Jumat 7 Juni 2018 lalu.

Selain itu, laporan Kementerian Kesehatan Palestina juga mengungkap jumlah korban luka. Angka disebutkan tidaklah sedikit, dalam waktu kurang dari tiga bulan Israel telah mencederai 14.700 korban mulai dari luka ringan, parah hingga korban serangan gas.

Sementara itu, aksi protes Great March of Return yang digelar setiap hari Jumat, telah memasuki pekan kesebelas. Jumat lalu Israel telah menewaskan 4 pengunjuk rasa dan mencederai 618 korban termasuk 48 anak-anak dan 20 wanita.

Aksi Great March of Return digelar di perbatasan Gaza-Israel. Massa menuntut Israel mengembalikan wilayah yang direbut saat berdirinya Israel tahun 1948 yang mengakibatkan ratusan ribu penduduk Palestina mengungsi. Aksi itu kemudian diperparah dengan adanya keputusan Amerika Serikat yang memindahkan kedutaan besarnya untuk Israel ke Al-Quds.

Sayangnya, Israel merespon aksi Great March of Return dengan cara brutal. Mereka tak segan menembak orang-orang yang berada di lokasi aksi, termasuk paramedis dan jurnalis. Menurut laporan Kemenkes Palestina, dari totol korban jiwa dua diantara adalah paramedis dan lima wartawan turut mengalami luka. [Umatizen/Kiblat Net]
Diberdayakan oleh Blogger.